Historitas
 Bertemunya Tradisi Judaisme , Kristianitas dan Islam

 AWAL SEBUAH TRADISI

A.Leluhur Isarel dan Arab

  Secara historitas, benih awal leluhur dua bangsa besar, Israel dan Arab bermula dari titik yang sama, Ibrahim. Cerita legendaris al-Kitab menyebutkan, Ibrahim atau Abraham,  adalah leluhur dua bangsa besar; Israel dan Arab. Benih munculnya Israel dan Arab ini diperkirakan munculnya sekitar 4000 tahun yang silam. Pada saat itu, sebuah kota Ur wilayah Khaldea, hidup seseorang bernama Terah, Arab tradisional menyebutnya, Azar. Dalam tradisi keluarga ini, mereka masih menyembah matahari dan berhala (Paganisme). Terah melahirkan beberapa orang anak yaitu, Abraham, Nahor dan Haran.  Abraham lahir pada tahun 2018 SM. Abraham termasuk anak Terah yang mendapat berkat Tuhan, hingga keturunanya yang dijanjikan  menjadi komunitas bangsa besar dan berpengaruh pada masa itu dan setelahnya. Dalam lingkungan Yahudi, Ibrahim merupakan  leluhur Judaisme yang disejajarkan dengan Musa yang datang dikemudian hari.
Pada masa lahirnya Ibrahim, hingga usia dewasanya, Khaldea  merupakan bagian dari wilayah Babilonia yang dipimpin oleh seorang raja paganis yang bernama  Namrud (Namruz, Nimrod). Konon peradaban Namrud ini merupakan awal berdirinya sebuah kerajaan yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Kelak Babilonia akan melahirkan Kode Hammurabi sebagai hukum tertulis kerajaan.
Antara raja Namrud dan Ibrahim berbeda kepercayaan yang menimbulkan konflik teologis dan menciptakan ketegangan dan kekerasan. Allah memberikan perintah kepada Ibrahim untuk bermigrasi ke Kan’an sebagaimana yang difirmankan Tuhan, “Keluarlah dari negerimu dan dari kerabat keluargamu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”  Ibrahim memenuhi perintah ini, akhirnya dia keluar Khaldea dan mengadakan perjalanan ke negeri Kanaan atau  Palestina zaman masehinya. Ini terjadi pada tahun 1943 SM.
Migrasinya Ibrahim dengan keluarganya tiada alasan lain melainkan perintah dari Tuhan. Kemudian  Ibrahim dan keluarganya menetap di negeri Kanaan. Saat  Kanaan terjadi krisis kebutuhan hidup, dia bermigrasi ke Mesir dengan keluarganya. Akhirnya  menetap di negeri ini.
Kehadiran Ibrahim ke tanah yang dijanjikan Tuhan ini, belum menjadikan tanah tersebut menjadi milik pusakanya, melainkan untuk keturunanya. Setelah Ibrahim tinggal sepuluh tahun di negeri Kanaan. Ibrahim memperoleh putra pertama kalinya dari seorang wanita kebangsaan Mesir yang menjadi istri keduanya, Hajar.  Wanita Mesir ini melahirkan anak lelaki yang diberkahi nama, Ismail yang lahir pada tahun 1932 SM. di Kan’an. Ibrahim membawa Hajar dan putranya dari Kanan  menuju padang gurun Hijaz di Semenajung Arabia. Pada saat itu Hijaz hanya sebuah pemukiman liar yang dihuni oleh kabilah Jurhum. Emigrasi ini terjadi karena adanya konflik domestik antara kedua istri Ibrahim, Hajar dan Sarah dalam satu keluarga. Ibrahim meninggalkan Hajar dan anaknya ditempat yang masih berupa padang tandus dan gundukan pasir yang hanya ditumbuhi kaktus dan sejenisnya. Tiada sesuatu yang heroik saat itu, Ibrahim kembali ke Kan’an.
Beberapa sumber dari Arab dan bukti bangunan kuno yang otentik, dapat menjelaskan, Ibrahim sering berkunjung ke Hijaz. Jejak-jejak yang ditinggalkan pada negeri ini adalah bangunan kudus Ka’bah. Menurut cerita yang diyakini saat itu,  bangunan kuno ini didirikan pertama kali pada masa Nabi Adam, kemudian sejak terjadinya air bah dan banjir bandang yang cukup dahsat  pada masa nabi Nuh,  bangunan ini menjadi rusak berat dan tinggal pondasinya yang mengakar ditanah. Pada tahun 1892 S.M., rumah tua ini dibangun ulang lagi oleh Nabi Ibrahim dan Ismail untuk mengkuduskan nama Allah.
Ismail yang bermigrasi ke Hijaz telah menapak sejarah hidupnya bersama etnis Jurhum yang masih nomaden sepanjang sejarah Arab. Ismail  berkeluarga dengan wanita aristokrat Jurhum dan mendapatkan dua belas putra yang semuanya adalah laki-laki. Dalam kitab Kejadian (Genesis) disebutkan nama-nama dua belas putra tersebut adalah: Nabat atau Nabayot, Qedar, Adbeel, Mabsyam, Misma’, Duma, Masya, Hadad, Tema atau Yatma, Yethur, Nafis dan Qedma. Di kemudian hari anak-anak ini akan membentuk suatu bangsa yang besar dan berpengaruh. Maka nyatalah apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada Ibrahim ketika masih di Mesopotamia. Tuhan berfirman “Aku akan membuat kamu menjadi bangsa yang besar, dan memberkati kamu, serta membuat namamu masyhur, dan kamu akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati kamu, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk kamu, dan olehmu semua orang yang di muka bumi akan mendapat berkat.” Dari dua belas etnis tersebut akhirnya beranak cucu menjadi leluhur bangsa  Arab, yang biasa dikenal oleh para sejarawan dengan sebutan Arab Musta’ribah.
Dengan adanya tali pernikahan anak pemuka etnis Jurhum, Ismail mempunyai jabatan yang menetukan hari depannya, bahkan dia dipercaya sebagai pimpinan kota Makkah dalam  menangani Baet Allah sepanjang hidupnya.  Dimana pada masa Ismail itu, Baet Allah Ka’bah merupakan tempat ibadah agama “Hanif” yang diajarkan Nabi Ibrahim. Agama “Hanif” (yang lurus) ini akan menjadi identitas anak-anak Ismail. Mereka melakukan ritual dan pengorbanan dikeliling bangunan Kudus, Ka’bah yang menjadi simbol religinya.
 Putra yang kedua Ibrahim adalah Ishaq (Isaac) yang lahir pada tahun 1919 SM, dari istri yang pertama,  Sarah. Seorang sejarawan Yahudi abad pertama, Josephus, berusaha menempatkan Ishaq, sebagai satu-satunya anak laki-laki Abraham yang istimewa Mungkin karena keyahudiannya ini, Josephus berusaha menempatkan Ishaq diatas saudaranya Ismael. Tiada yang mengesankan ini terjadi, karena dalam tradisi Ibrani, dua anak laki-laki bersaudara, maka yang lebih tua berada dibawah derajat adiknya. Tradisi demikian menyebabkan orang-orang Yahudi menganggap rendah terhadap keturunan Ismail yang menyebar disemenanjung Arabia.
Ishaq  menikah dengan Ribka, seorang wanita berkebangsaan Aram. Perjanjian Lama (Old of Testament) mengisahkan satu babak cerita yang unik. Ketika Ribka sedang mengandung Esau dan Ya’kup, dia merasa kedua anak yang dikandungnya saling bertolakan. Sehingga Ribka mengeluh kepada anak-anak yang dikandungya seraya mengatakan, “jika demikian halnya mengapa aku hidup.” Kemudian dia mendapat ilham dari Tuhannya. “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua etnis bangsa akan terpencar dari rahimmu, etnis bangsa yang satu akan lebih kuat dari pada yang lain. Dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.”  Kemudian lahirlah Esau, kemudian adiknya Ya’kup. Dalam perkembangan selanjutnya, Ya’kup  menjadi leluhur Bangsa yang besar seperti yang telah diilhamkan kepada Ribka, ibunya. Ya’kup mendapat gelar khusus dari Tuhan dengan sebutan Israel, sebagaimana leluhurnnya Abram menjadi Abraham, ketika masih berada di Mesopotamia.
Dari garis Ya’kup atau Israel inilah lahir dua belas putra yang masing-masing mempunyai putra dan keturunan yang banyak, sehingga dalam waktu yang singkat dua belas saudara tersebut menjadi satu komunitas yang besar dan berpengaruh di wilayah mereka. Semua anak cucu Ya’kup inilah yang nantinya disebut Bani Israel (anak cucu Israel). Mereka hidup menjadi pengembara dan menduduki daerah yang subur sebagai tempat koloninya. Bani Israel telah menduduki berbagai wilayah yang meliputi tanah leluhurnya yaitu: Ur, Babilonia, Mesopotamia, dan Asyeria, kemudian menelusuri pegunungan Mediterania sampai ke Mesir. Sedangkan dua belas anak-anak Ismail menyebar keseluruh Semenanjung Arabia. Mereka menurunkan para raja di Ghasan, Yaman, Oman dan sekitaranya.
Pada dekade yang hampir bersamaan, perkembangan Bani Israel bagian menitik beratkan pada kehidupan di Mesir.  Negeri ini  merupakan tanah yang dianggap cukup penting, mengingat di tanah inilah mereka menerima agama yang khusus bagi mereka. Keberadaan mereka di Mesir diawali ini sejak kedatangan leluhurnya Yusuf,  putra Israel yang kesebelas. Di negeri yang berperadaban ini, sebagai orang asing Yusuf dipercaya oleh pembesar istana (wazir) yang bertanggung jawab terhadap harta benda istana dan kemakmuran rakyat Mesir. Karena  pentingnya kedudukan Yusuf di Mesir, maka saudara-saudaranya yang lain diberikan tempat untuk bermukim. Mereka berkembang secara cepat dan menjalar keseluruh kerajaan, bahkan melebihi jumlah rakyat Mesir sendiri. Kelak mereka dianggap membahaykan  pemerintahan Kerajaan. Seperti yang dijanjikan Tuhan, dua belas anak-anak Ismail tersebut memencar keseluruh Semenanjung Arabia, sedangkan pada waktu yang hampir bersamaan dua belas  anak-anak Israel ini di wilayah utara, telah memencar di sekitar Palestina.  Kedua komunitas tersebut adalah anak-anak Ibrahim (Abrahamic Children’s) akan di tinggikan diantara bangsa.
 Sepeninggal Yusuf, bangkitlah seorang raja Mesir yang tidak mengenal jasa-jasa dan perjuangan Yusuf saat menjabat sebagai menteri. Raja mengetahui dari hasil sensus penduduk, bahwasanya jumlah anak-anak Israel yang bermukim di Mesir jauh lebih besar jumlahnya dari pada penduduk pribuminya.  Raja harus mengamankan  kedudukannya. Maka dia menetapkan kebijaksanaan untuk menghambat pertumbuhan jiwa anak-anak Israel. Namun kebijakan itu tidak menghambat angka pertumbuhan bahkan tambah meningkat sehingga diambil kebijaksanaan lagi dengan cara menindas mereka dan menurunkan status Bani Israel menjadi budak untuk dan mesin pekerja yang handal. Mereka dieksploitasi tanpa imbalan yang seimbang, sehingga hanya mendapatkan kesengsaraan yang tak pernah terhenti sampai Tuhan membangkitkan Musa untuk membebaskannya dari negeri perhambaan.    
sumber:(buku ini masih tahap penulisan=penulis :sumarjoko.SHI/-pasca sarjana study-s2 UIN JOGJA)


A. 1.  Lahirnya Musa dan Agama Yahudi

Ketika Bani Israel dianggap orang asing dan dijadikan mesin pekerja, maka mereka mengalami pergeseran status kelas yang lebih rendah dari pada sebelumnya,  mereka tidak mempunyai pelindung yang menempati posisi penting dalam kerajaan, sehingga mereka benar-benar terpisah dari bangsa Mesir, akhirnya terbentuklah kesenjangan sosial yang berkepanjangan yang menciptakan konflik sosial.Dari segi status sosial, orang Mesir menganggap bani Israel sebagai budak. Oleh karena itu mereka mengekploitasi serta dibatasi perkembangannya dengan cara membunuh anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuannya. Dalam kondisi yang demikian, lahirlah Musa pada tahun 1593 S.M. seorang keturunan Bani Israel dari garis Lewi.
Ketika raja Mesir mengeluarkan titah untuk membunuh bayi laki-laki Bani Israel dan membiarkan hidup bayi perempuan, maka  titah ini  tidak dapat dilawan  Bani Israel, walaupun jumlah mereka mayoritas. Dalam dekade ini, Bani Israel tiada yang menduduki jabatan penting sebagaimana sebelumnya. Saat ini mereka hanya rakyat asing yang masih nomaden dan tidak mempunyai otoritas sedangkan rakyat Mesir telah mempunyai peradaban cukup tinggi sehingga kebijakan sang raja mudah dijalankan.
Ketika titah ini dijalankan, maka para jajaran pegawai pemerintahan melakukan operasi terhadap setiap wanita Israel yang sedang hamil. Pada saat itulah orang-orang Israel terancam ketakutan akan keselamatan anak lelaki mereka karena tidak mendapatkan perlindungan dan otoritas yang lebih tinggi. Al-Qur’an merepresentasikan, “Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai.”  Maka atas bisikan ini, Ibu Musa meletakkan anaknya kedalam peti dan membiarkan terapung di sungai Nil. Sesuatu terjadi dan tak terduga sebelumnya, jika saat ada seorang puteri Fir’aun yang bermain disungai yang sama. Mereka melihat peti yang sedang melintas. Tak akan tahu seorangpun  mengapa putri tertarik untuk mengambil peti yang ternyata berisi seorang bayi manusia.  Akhirnya bayi itu dimintakan izin untuk dijadikan saudara asuhnya. Fir’aun (Ramses II) mempertimbangkan secara serius namun dia setuju, dan diberilah bayi tersebut olehnya, dengan nama “Musa” sebuah nama untuk para pangeran Mesir, sehingga  lahirlah agama Yahudi (Hebrew Religion) yang menyatu dan melekat pada diri dan karakter Musa.
Musa terdidik sebagai pemuda bangsawan Mesir, dia mempunyai jiwa ksatria dan kepemimpinan sebagaimana para pangeran Mesir. Ini akan terlihat bagaimana kelak dia bisa bertemu dengan raja Mesir. Seandainya Musa tidak dikenal dalam lingkungan kerajaan, pasti dia tak akan bisa menemui Fir’aun karena statusnya berbeda. Semua bani Israel dianggap budak. Ini tidak berlaku bagi Musa, karena sejak kecilnya dia hidup dalam lingkungan kerajaan yang besar.
 Setelah Fir’aun (Ramses II), ayah angkat Musa mangkat dan diganti Fir’aun berikutnya (Manphata) yang lebih kejam dan lalai, maka penderitaan bani Israel makin meningkat. Ini menimbulkan patriotisme dalam diri Musa ketika melihat saudara-saudaranya mendapat tekanan dari raja.  Dari segi agama mereka dipaksa untuk mengakui Fir’aun sebagai tuhannya. Seruan Fir’aun (Manphata) ini dianggap bertentangan dengan ajaran leluhur mereka. Memang sebagian bani Israel menyembah para dewanya orang Mesir, namun tidak semuanya demikian. Sebagian pembesar Israel masih berlaku lurus sebagaimana leluhurnya, Yusuf dan Ya’kup.  Musa menginginkan kemerdekaan Bani Israel dari perbudakan Fir’aun supaya mereka hidup bebas dan merdeka. Bebas untuk melakukan keyakinan agama yang diserukan olehnya sebagaimana agama yang telah diajarkan oleh nenek moyangnya Ibrahim. Orang Mesir sendiri menurut sejarah adalah pemuja para dewa (Polytisme).  Pemujaan para dewa  yang mencapai puncak tetingginya adalah dewa matahari yang mereka namakan  “Ra”. Sedangkan Fir’aun  sendiri diyakini keturunan dari dewa matahari (Ra) yang dikirim untuk memerintah bumi, dan pusat bumi tidak lain adalah negeri Mesir. Sehingga Mesir mereka anggap sebagai pusatnya peradaban dan di Mesir juga Fir’aun harus mempertuhankan dirinya sebagaimana leluhurnya dewa matahari.
Kemudian datanglah sebuah misi dari Tuhan untuk dimandatkan kepada Musa, yaitu membebaskan bani Israel yang telah diperbudak oleh Fir’aun (Manphata). Firman  datang langsung dari Tuhan tatkala dia sedang pulang dari mengembala  domba milik orang tua istrinya, Yitro (Jethro) seorang imam di Midian. Firman datang dengan tiba-tiba “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam” Inilah pertama kalinya Sang Maha Tinggi menampakkan Diri kepada Musa agar Musa yakin dirinya adalah utusan Tuhan. Kemudian Tuhan memberikan tanda-tanda kenabian (nubuah) untuk membebaskan bani Israel di Mesir.   
Kedatangan Musa yang pertama kali ke Mesir adalah sebuah misi kemanusiaan, yaitu membebaskan bani Israel kekuasaan raja Mesir. Dia datang bersama Harun sebagai juru bicaranya serta para tua-tua Israel. Musa datang setelah kepergianya yang dulu pernah menjadi benih bara api bagi Fir’aun, Ramses II, namun hal ini belumlah dianggap membahayakan. Namun  ketika Musa datang membawa misi monotiestiknya untuk menyampaikan kepada Fir’aun berikutnya, Manphata, maka berkobarlah bara api yang terpendam beberapa tahun yang lalu. Namun demikian Musa tetap menyapaikan apa yang telah diterima dari Tuhann-Nya.
Ketika dihadapan Fir’un (Manphata) dia mengatakan “Sesungguhnya aku datang kepada kamu dengan keterangan dari Tuhan  maka tertegunlah Firaun, seraya berkata “siapakah Tuhan yang harus ku dengar firman-Nya itu, untuk membiarkan orang Israel pergi? aku tidak kenal Tuhan itu, dan tidak juga aku akan membiarkan bani Israel pergi.”  Disini Musa menegaskan bahwa, Tuhan yang mengutusnya adalah Tuhan, Allahnya Ibrahim, Ishaq dan Ya’kup. Bahkan Tuhan Fir’aun juga, betapapun kekuasaan Fir’aun tidak sebanding dengan kekuasaan Tuhan, kemudian ayat diatas dilanjutkan, “...maka biarkanlah Bani Israel ini bersamaku”.
Secara diplomatis Fir’aun menjawabnya, “jika benar kamu membawa suatu bukti maka datangkanlah bukti itu, jika (benar) kamu termasuk orang-orang yang benar.” Sebagaimana janji Tuhan kepada Musa, maka tiba-tiba turun wahyu kepadanya. Musa terinpirasi wahyu itu ”Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu tongkatnya menjadi ular yang sebenarnya. Mungkin bukti (nubuah) pertama tidak cukup bagi Fir’aun, kemudian diikuti dengan bukti yang kedua, maka sebagaimana perintah Tuhan,  mengeluarkan tangannya, seketika itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang memandangnya.
    Melihat kedua mu’jizat yang luar biasa itu, timbullah perasaan dalam hati sebagian pembesar kerajaan dan mereka saling berbisik-bisik satu sama lainya kemudian mereka meminta pendapat satu sama lain. Setelah mempertimbangkan insiden luar biasa itu, mereka mengakui dan menerima semua yang dipertunjukkan oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala yang terjadi pada Nabi Musa.
    Upaya Musa untuk membebaskan Bani Israel tidaklah sia-sia. Setelah berjuang untuk membebaskan Bani Israel, mereka mandapat pertolongan Allah saat menyeberang laut merah. Saat ini Tuhan telah menjadikan laut merah sebagai medan penyelamatan. Kaum  militer Mesir yang mengejar Bani Israel  mendapat perlawanan yang misterius. Mereka berteriak sesamanya agar tidak mengejar, karena Tuhan berada dipihak Musa dan Bani Israel. Namun para tentara itu tetap mengejar bersama pimpinannya hingga terlempar semuanya ke tengah laut bersama kereta dan kuda-kudanya, sedangkan Bani Israel berjalan diatas laut tanpa basah seditkitpun. Bani Israel juga menyaksikan bagaimana Tuhan menyelamatkan mereka dengan misterius, mereka juga menyaksikan pada orang-orang Mesir yang bergelimpangan di pantai laut Merah.
Musa dan kaumnya berhasil keluar dari Mesir dan menuju padang Tih. Dalam kitab Perjanjian Lama  (Old of Testament) kitab Keluaran pasal 12 ayat 37 diterangkan bahwa, Bani Israel berangkat meninggalkan Mesir diikuti oleh 600.000 laki-laki dan sejumlah keluarganya. Mayoritas anak-anak Bani Israel adalah rakyat jelata yang tertindas secara turun-menurun kurang lebih 4 abad lamanya. Selama di Mesir dan sebelum datangnya Musa, mereka turut menyembah berhala orang-orang Mesir dalam bentuk lembu betina, mereka namakan “Apis.” Karena kebiasaan-kebiasaan  yang secara turun-temurun dilakukan inilah, menyebabkan mereka masih selalu terkenang oleh dewanya.