Kapan Ibu Menagis ? 

Yogyakarta 8 agustus 2008
Sore itu telihat ibuku menatap sekeliling halaman rumah, besandar di jendela memandang teras luar halaman rumah. Terlihat Tampak murung dan sayu tatapan matanya, bibir kering seolah tak pernah tersentuh air putih.

Tak lama berselang ia tak mampu memandang ke arah teras depan ruamahku, ia tundukan wajahnya tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi wajah murung dan sayunya, bibirnya pun bergetar seoalah mengucapakan sesuatu dengan suara dalamnya.
Lama kulihat ibuku dalam tangis tersembunyinya, tanpa ayah tahu kenapa ibu mengis hari itu. Tak berani ku hampiri ibu ku dalam suasana gundanya, bhantinku pun berkata ya Tuhan betapa besar kasih sayang ibuku pada kami anak-anaknya.
Ternyata ibuku menangisi kakaku dalam rantauan tanah orang, kini ku tahu kenapa ibu ku menangis ia tak mampu mendang tersas ruamah kami disaat sunyi datang dalam kelam dan rindu sang ibu. Di sana tempat kami bermain, aku dan kakaku sering berebutan mainan dan kadang bekelahi sehingga ibu sering melerai bahkan memahari kami, karena tidak terkendalinya kami dalam bermain, sehingga aku tak jarang sering mengis dan mengadu kepada ibu atas perbuatan kakakku, ibu tidak pernah membedakan kasih sayangnay pada kami, ia adil tidak pernah menyalahkan dan dan membela jika kami perbuat salah dan aku dan kakku sering bertengkar.
Panjang ku ingat kisah-kisah ini lagi, sehingga air mataku menetes untuk menulis setiap kata-kata tulisan ini. Kini ibuku sendiri bersandar dalam mendang jendela rumah kami tak ada aku yang aku melihatnya menangis dalam seiap rindu pada kami anak-anaknya, tak ada kakaku yang bias diajaknya bicara dan bercanda, tak ada bapaku yang menemaninya dalam kesendiriannya karena ia pergi jauh mengadap sang Kuasa.
Seolah tak ada cahanya kebagiaan dalam hari-harinya meghiasi wajah murungnya.
Tak mampu ku tahan hatiku melihat ibuku dalam kesendiriannya, ingin ku kembalikan masa-masa bahagiamu ibuku, ingin ku berikan yang terbaik untuk membahagiakanmu ingin kumembeli senyummu kembali bila ku mampu, ingin ku habiskan tetesan ait mataku untukmu bila ku mengingatmu
Tuhan
Kini akau jauh dengan ibuku yang tertinggal sediri di kampong halamanku, kakaku juga pergi merantau ke negeri orang untuk mencari masa depanya. Kini kami terpisah jauh dan tinggal ibu sendrii diruamh dalam kesabaran rindu dan kasihnya pada keluarga ini.
Ya Tuhan
Izinkan aku tidak meneteskan air mata ini bila mengingat ini semua……
Kenpa aku mengis, kenapa hatiku berteriak tidak mampu menerima ini semua
Ya Tuhan
Tabahklah hati ibuku dalam setiap rebahan malam kesendiriannya , tanpa ada suara dari orang-orang yang disayanginya. Setiap ku langkahkan kakiku menuju kampus sering ku lupa nasitmu untuk berdoa keluar pintu kost, sering ku lupa disaat kau memberikan ku uang jajan tidak pernah ku menghubungi dan menelpon baik sms. Kini aku rindu suaramu dan aku hatiku terasa sesak jika menginatamu oh ayah….
Maafkan anakmu yang tidak bias berbalas budi ini, maafkan anaku yang tak sering mendokanmu dalam setiap shalatku.
Aku sadar aku harus menyelesaikan segera studiku agar aku bias pulang menemani ibuku dan mengujungi rumah ayah yang abadi. Ya Allah jadikan hamba anak yang mampu bebalas budi pada kedua orang tuak kami, kami sadar suatu saat kami akan seperti mereka dan kami yakin rencanMU indah.. sehingga setiap tetesan air mata ini adalah karuniaMu untuk menikati indanya kasih sayang itu pada kami hamba ciptaanmu